Faizal Fahmi Baelul
Sebenarnya Adi sudah mencoba bunuh diri setidaknya dua kali dalam lima tahun terakhir, namun semua percobaannya berhenti karena dia meneguhkan diri untuk tidak mati sebelum membayar lunas semua hutang orang tuanya yang masih ratusan juta itu. Setidaknya itu satu-satunya motivasi bertahan hidup lelaki berumur 27 tahun yang kini bekerja sebagai pegawai kantoran dengan jam kerja pukul 8 pagi hingga 5 sore. Adi kini harus tinggal di kota yang berbeda dengan orang tuanya, kota yang lebih metropolitan dan lebih megah dengan hiruk pikuk kendaraan serta ramai lampu-lampu gedung. Sebuah perbedaan yang sangat mencolok dengan desanya yang sunyi dan gelap selepas jam 7 malam. Dia selalu merasa kota ini tidak pernah tidur dan terus bernafas hingga mungkin sampai kiamat nanti.
Tidak ada kesedihan yang mendalam dari dirinya yang membuat Adi ingin mengakhiri hidupnya. Dia tidak merasa sedih terkait hidupnya, dia memiliki kekasih yang selalu menemaninya dan juga memberikan semangat, bahkan dia memiliki banyak teman yang akan selalu datang ketika Adi mengirim pesan ke mereka. Dari segi pekerjaan pun sebenarnya Adi sudah termasuk lumayan, gaji bulanannya sudah di atas UMR kota itu. Dia masih bisa hidup di kosan yang lumayan layak, masih bisa membeli makanan mahal setidaknya seminggu sekali, masih bisa membayar cicilan hutang orang tuanya tiap bulan dan masih bisa menabung. Bahkan bila dibandingkan dengan teman-temannya yang lain, Adi jauh lebih pintar secara pengaturan finansial dan tidak pernah berada dalam posisi benar-benar tidak memiliki uang. Namun keinginan untuk mati selalu saja muncul di kepala kecilnya. Beberapa kali dia selalu mendengar bisikan-bisikan yang selalu memberitahu bagaimana cara bunuh diri yang mudah. Pernah ketika dia mengendarai motor kembali ke kota dari desa, pikirannya berbisik untuk menabrakkan diri ke truk besar yang ada di hadapannya. Ada juga ketika dia sedang menonton film di bioskop dengan pacarnya di salah satu mall besar di kota, pikirannya meminta Adi untuk loncat dari lantai 4 mall itu. Tapi semua itu selalu kalah dan Adi melanjutkan hidupnya yang begitu-begitu saja.
Tiap pukul 4 pagi Adi akan bangun dan membuang hajat di kamar mandi. Menunggu adzan subuh lalu bersembahyang. Lepas itu dia melanjutkan tidurnya, bangun lagi pukul 7 dan bersiap berangkat ke kantor. Jarak dari kosnya adalah 30 menit menggunakan motor dan seharian dia akan bekerja dari pukul 8 hingga 5 sore. Itulah kehidupan Adi dari senin hingga jumat. Dan pada akhir pekan, dia akan menghabiskan waktunya bersama kekasihnya, menemui teman lamanya, atau hanya tidur seharian di kos sambil membaca buku-buku yang belum sempat ia baca. Semuanya sama.
Semua rutinitas yang sudah berjalan hampir 3 tahun ini akhirnya berubah 3 bulan terakhir. Kantornya melakukan beberapa efisiensi dengan menggabungkan beberapa departemen. Lalu hal paling mengagetkan semua orang adalah PHK yang terjadi untuk beberapa karyawan senior, salah satu orang yang terdampak PHK ini adalah manajer Adi sendiri. Kemudian untuk menggantikan peran manajer lama itu, kantornya memindahkan salah satu manajer senior ke tim Adi dan momen ini lah yang akhirnya merubah kehidupan Adi seutuhnya. Setelah manajer senior ini mengambil peran dalam tim Adi, dia selalu pulang di atas pukul 8 malam karena harus menyelesaikan berbagai macam laporan yang sebelumnya tidak pernah ada. Adi tidak pernah mengeluh, bahkan dia pun berpikir kalau hal-hal baru ini akan membantu mengembangkan kemampuannya dalam pekerjaan karena banyak yang ia pelajari bersama manajer barunya.
Namun semua pikiran Adi itu hanya bertahan selama beberapa bulan saja. Setelahnya dia menyadari bahwa apa yang dia lakukan sekarang sudah mengubah hidupnya sedikit demi sedikit. Dia sekarang lebih ingin mati dan selalu membuat banyak scenario bagaimana melakukan bunuh diri yang tidak terlihat seperti bunuh diri. Tiap pagi hari ketika Adi bangun dan melihat ke arah langit-langit, pikirannya mencoba mengajak untuk gantung diri. Tiap kali pikiran untuk mati datang, Adi langsung menampar pipinya dan teringat terkait cicilan hutang yang perlu diselesaikan dalam waktu 4 tahun lagi. Dia juga mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap bertahan hidup untuk kekasihnya. Namun, lelaki ini benar-benar sudah kelelahan. Pekerjaan yang selalu menumpuk dan waktu yang berjalan dengan cepat membuat dia tidak bisa berpikir jernih, tertekan, dan mulai merasa menjauh dari apa yang sudah dia miliki. Hingga kadang dia meyakini bahwa mati adalah jalan yang paling mudah.
Akhir-akhir ini Adi mencoba untuk meluangkan waktu barang 30 menit untuk menyendiri dan berpikir apa saja yang telah ia lewati dalam kesehariannya. Dari 30 menit yang khusuk itu, Adi menarik kesimpulan bahwa akhir-akhir ini dia lebih sering gusar dan merasa selalu diawasi, dia juga sadar sudah jarang menghabiskan waktu dengan kekasihnya dan hanya membalas pesan-pesan kekasihnya secara seadanya dan singkat, bahkan ketika hari libur datang dia sudah jarang menemui teman-teman lamanya atau untuk membaca buku. Semua yang dia lakukan hanya tenggelam dalam tuntutan pekerjaannya yang Adi percaya akan membayar dia ke jenjang karir yang lebih tinggi dan penghasilan yang lebih baik dan mampu segera melunasi semua hutang orang tuanya lalu mulai menabung untuk menikah. Tanpa bertanya ke orang-orang di sekitarnya apakah itu yang mereka butuhkan darinya.
Pada suatu sore di hari minggu, setelah mengantar kekasihnya pulang, Adi berbaring di atas kasur menatap ke arah langit-langit. Pikirannya sedikit berkabut dan dia teringat kata-kata yang dilontarkan kekasihnya. “Semua bukan karena uang, dan kamu harus ingat dulu kamu siapa.” Wanita itu berkata kepada Adi dengan nada yang lembut namun dengan sedikit kekecewaan yang mengikutinya. Adi memutar ulang kata-kata itu berkali-kali dan mengingat apa saja yang pernah ia lalui. Beberapa tahun lalu dia bertemu kekasihnya setelah dia membaca sebuah puisi Nirwan Dewanto di salah satu warung kopi. Umurnya waktu itu masih 23 tahun dan kekasihnya masih 20 tahun. Ketika turun dari panggung, wanita yang pada waktu itu belum menjadi kekasihnya itu bertanya, “Mas, apakah kamu homo?” Pertanyaan itu membuat kejantanan Adi merasa tertantang dan langsung mengajak wanita itu berkencan dengan melihat matahari terbit di pantai. Keduanya lalu bercerita terkait hidup masing-masing, beban masing-masing, dan Adi pun berkata “Mari menenggelamkan diri bersama, kapan-kapan.” Lalu semenjak itu mereka pun selalu bersama hingga sekarang. Adi mulai menyadari dia benar-benar menjadi seseorang yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya dan sebagian dari dirinya mulai hilang sedikit demi sedikit. Air mata pun mulai menetes perlahan dari kedua matanya. Dia tidak sadar kalau menangis dan dia makin tenggelam dalam kabutnya.
“Bsok kamu mau ke pantai tidak?”, pesan singkat itu datang dari kekasihnya. Adi menerima ajakan itu di hari jumat ketika dia sedang sibuk membuat laporan akhir bulan yang harus selesai hari itu juga. Untuk sekejap dia percaya bahwa pergi ke pantai adalah pilihan yang terbaik yang bisa dia lakukan di akhir pekan ini. Apalagi setelah dia menyadari bahwa pekerjaannya sangat menguras energi dan membuatnya kehilangan dirinya. Terlebih lagi sekarang dia sangat amat percaya bahwa semua orang di perusahaan bisa digantikan dengan mudah terlepas semua hasil kerja yang baik dan pujian-pujian dari atasan dan pada akhirnya semua hal dalam pekerjaan hanyalah omong kosong yang harus dijalani sebagai kewajiban mendapat uang saja, tanpa ada makna lebih di dalamnya. Dengan pergi ke pantai, dia percaya bagian-bagian kecil dari dirinya yang terkikis akan kembali sedikit demi sedikit. Serta dengan mendatangi pantai, dia bisa mengingat kembali kali pertama berkencan dengan kekasihnya sembari mencari serpihan-serpihan dirinya yang sudah berserakan di mana-mana.
Hari itu cerah, Adi membawa novel Milan Kundera. Kekasihnya meyakinkan Adi untuk membawa buku yang belum selesai dia baca dan dia pun tak bisa menolak. Bagaimana dia bisa menolak wanita kecil yang manis itu? Dia membaca “Kelambanan” dan duduk di bawah pohon sambil terbuai oleh angin laut yang cukup kencang. Kekasihnya hanya tersenyum melihat Adi mulai serius membaca buku lagi. “Aku ingin mengejar ombak dan bermain air.”, kata wanita itu, “Kamu bisa menyusul kalau kamu sudah lelah membaca atau sudah mendengar seruan ombak.” Dia pun berlari menuju ombak meninggalkan Adi yang hanya mengangguk dan masih terbenam dalam buku bacaannya. Untuk sepersekian detik, Adi merasa terlahir kembali dan merasa hidup baik-baik saja. Tak berselang lama, Adi menutup bukunya. Dia menyelesaikan buku itu juga dan menghela nafas panjang yang terasa amat sangat lega. Matanya mengarah ke kekasihnya yang sedang bermain air dan ombak-ombak yang menggulung menuju bibir pantai. Untuk pertama kalinya setelah bekerja, dia merasa hari ini adalah hari yang indah dan dia tidak ingin memikirkan hal-hal lain, seperti tenggat laporan yang belum dia kerjakan sama sekali meski dia tau harus mengirimnya di hari senin pagi, hutang yang masih harus dibayar hingga 4 tahun ke depan, dan kapan tabungannya akan terkumpul untuk menikahi kekasihnya. Semua hal itu menguap dari pori-pori kepalanya dan dia merasa bisa melihat dan mendengar dengan lebih jelas.
Kekasihnya tertawa sambil bermain dengan ombak. Adi ingin sekali berlari ke arah kekasihnya dan memeluknya dengan erat. Namun secara tiba-tiba dia mendengar suara dari arah laut. Dia mencoba memfokuskan indra pendengarannya dan terkejut, dia bisa mendengar dengan jelas seruan ombak-ombak di hadapannya. “Lari lah kemari!”, ombak-ombak itu memanggil Adi dengan penuh kegembiraan. Adi hanya tertegun dan merasa dia sedang bermimpi. Tapi sayangnya itu bukan mimpi dan dia masih bisa melihat kekasihnya yang manis itu berdiri melambai-lambai. Atau jangan-jangan ombak-ombak itu telah bersekongkol dengan kekasihnya, karena Adi ingat betul kalau kekasihnya berkata dia bisa menyusulnya ketika mendengar seruan ombak. Kini ombak-ombak itu memanggilnya. Dia amat yakin ini memang bukan lah mimpi. Akhirnya dia mencoba memulai langkahnya dengan mantap, lalu berlari sekencangnya menuju ke arah ombak-ombak itu.
***
Wanita itu, sudah setengah basah sambil melambai-lambai ke arah kekasihnya. Dia melihat lelaki dengan kantung mata hitam itu mulai berlari ke arahnya atau malah arah ombak. Dia tidak peduli. Akhirnya setelah sekian tahun mereka berdua bersama, dia bisa melihat lagi senyum kekasihnya yang lebar itu. Senyum yang mengingatkan si wanita ini kenapa dia jatuh cinta kepada Adi. Namun lelaki itu tidak berlari ke arahnya, dia malah melewatinya dan menuju ke ombak-ombak yang menggulung dengan senyum lebarnya. Wanita itu sama sekali tidak keberatan dan malah ikut tersenyum bahagia.
Dia melihat lelaki itu menyatu dengan ombak tanpa beban, dan hanya senyum bahagia.
_________
- "Dengarlah Seruan Ombak" adalah cerpen yang saya mulai tulis pada bulan November 2024. Sepanjang perjalanannya, ada berbagai perubahan yang saya tambah atau kurangi dari cerpen ini sampai saya menguploadnya di blog pribadi saya.
- Saya mengupload cerpen ini di blog pribadi saya juga karena saya baru saja ingat memiliki cerpen ini dan ternyata pernah saya coba untuk kirim ke beberapa media di awal tahun 2025 namun tidak ada kabar baik yang saya terima. Oleh sebab itu, daripada cerita ini membusuk di cloud storage saya, saya lebih memilih untuk menguploadnya di blog pribadi saya ini.
- Ada kemungkinan blog pribadi saya akan saya penuhi dengan cerpen atau esai yang saya buat selain terjemahan karya sastra yang selama ini menjadi akar dari blog ini.

Comments
Post a Comment