Hanasaka Jijii (Si Kakek Pemekar Bunga)

Perangko Jepang bertema Hanasaka Jijii

Cerita Rakyat Jepang


Pada zaman dahulu kala,hiduplah pasangan tua yang baik hati. Sepanjang hidupnya mereka selalu jujur dan bekerja keras, namun sayangnya mereka tetaplah miskin. Sekarang di umur mereka yang sudah tua, mereka tidak memiliki banyak cara untuk bertahan sehari-hari.

Mereka tidak pernah mengeluh, bahkan sedikit pun tidak pernah. Mereka selalu berbahagia sebagaimana hari yang panjang. Jika mereka tidur dalam kondisi kedinginan atau kelaparan, mereka tidak pernah berkata apa pun, dan jika mereka bisa memakan makanan ringan atau pun hanya sekedar sup di rumah mereka, mereka selalu membaginya dengan anjing peliharaan mereka karena mereka sangat mencintai anjing itu. Si anjing yang sangat setia, baik dan pintar. Suatu petang, si kakek dan nenek pergi untuk mencangkul kebun mereka dan si anjing ikut bersama mereka. Ketika mereka berdua sibuk bekerja, si anjing mengendus-endus tanah dan secara tiba-tiba menggali tanah.

“Apa yang dilakukan anjing itu sekarang?” kata si nenek.

“Oh, bukan apa-apa,” kata si kakek; “dia cuman bermain.”

“Sepertinya dia tidak hanya bermain,” kata si nenek. “Aku yakin dia menemukan sesuatu yang berharga.”

Lalu si nenek mengikuti si anjing dan si kakek pun mengikuti keduanya sambil meminjamkan cangkulnya. Si anjing pun sudah menggali lubang yang cukup besar dan dia mulai mencakar-cakar secara perlahan dengan kedua kakinya lalu menggonggong. Si kakek pun membantu si anjing dan tidak lama kemudian mereka menemukan sebuah kotak harta karun berisi perak, emas, perhiasan dan barang-barang berharga lainnya. Pasangan tua itu sangat bersyukur. Mereka mengelus-elus kepala anjing pintar itu, lalu si anjing meloncat bahagia dan menjilati muka pasangan tua itu. Mereka pun membawa harta karun itu pulang ke rumah. Si anjing berlarian sambil menggonggong bahagia.

Di sebelah rumah pasangan tua baik itu, tinggal juga pasangan tua lain, mereka tidak sebaik itu dan dipenuhi dengan perasaan iri serta dengki. Ketika melihat anjing tetangga mereka bisa menemukan harta karun saat mereka mengintip rumah dari lubang di pagar bambu, mereka pun menyadari apa yang sudah terjadi. Apakah kalian berpikir bahwa mereka ikut bahagia? Tentu saja tidak sama sekali. Mereka berdua sangatlah marah dan iri hingga mereka tidak dapat berpikir tenang dari siang hingga malam.

Hingga pada akhirnya si kakek tua jahat ini datang ke kakek tua baik.

“Aku datang ke sini untuk meminjam anjingmu,” katanya

“Dengan sepenuh hati,” jawab si kakek baik; “bawalah dia.”

Lalu si kakek tua jahat ini membawa si anjing ke kamar paling bagus di rumahnya. Dia dan istrinya pun menyiapkan makan malam spesial, terdiri dari sekian banyak makanan mahal, lalu mereka bersujud di depan si anjing. “Anjing yang terhormat,” kata mereka, “engkau lah anjing baik dan bijak, makan lah ini semua lalu bantulah kami mencari harta karun.” Tapi si anjing tidak memakannya sedikitpun. “Dan untuk semua makanan sisa ini, adalah pembelian anda kepada kami,” kata si pasangan serakah itu, lalu mereka berdua memakan semua makanan tadi dengan rakus dalam waktu yang singkat. Kemudin mereka mengikat leher si anjing kencang-kencang dan menariknya ke kebun untuk mencari harta karun. Namun tak ada satu pun barang berharga yang mereka temukan, baik emas maupun perhiasan atau barang-barang berharga lainnya.

“Setan ini adalah monster,”, teriak si pak tua jahat, dan dia mulai memukuli si anjing dengan tongkat yang besar. Lalu setelahnya si anjing mulai menggali tanah dengan kedua kakinya.

“Oho! Oho!” Kata si kakek jahat ke istrinya, “sekarang waktunya untuk harta karun!”

Tapi tidak ada satu pun barang berharga yang digali oleh si anjing. Malah si anjing menggali tumpukan sampah. Tumpukan sampah itu berbau sangat busuk dan menyengat hingga pasangan jahat itu harus berlari sambil menutup hidung mereka rapat-rapat.

“Sial!” teriak mereka, “si anjing menipu kita!” Lalu pada malam hari mereka membunuh si anjing malang itu dan menguburnya di bawah pohon pinus yang tinggi.

Si kakek dan nenek yang baik itu pun bersedih ketika mendengar anjing mereka telah mati. Mereka menangis tersedu-sedu. Mereka pun menaburkan bunga di atas kuburan si anjing, membakar dupa serta menyediakan makan agar si arwah anjing tidak kelaparan dan tenang di sana.

Lalu si kakek baik itu menebang pohon pinus dan membuat lumpang dari kayunya. Dia menaruh beras ke dalam lumpang dan menumbuknya menggunakan alu. “Ajaib, sungguh ajaib,” teriak si nenek baik sambil melihat suaminya, “sungguh ajaib suamiku yang baik, beras kita berubah menjadi kepingan emas!”

Dan sudah pasti bahwa kabar ini pun terdengar ke telinga si kakek tua jahat. Lalu si kakek jahat pun datang untuk meminjam lumpang dan alu si kakek baik.

“Aku butuh lumpang mu untuk membuat sesuatu yang penting,” kata si kakek jahat.

“Ambil saja,” kata si kakek baik; “aku yakin kamu membutuhkannya.”

Si kakek jahat itu pun membawa lumpang ajaib pulang ke rumahnya, dan sesampainya di rumah dia mengisinya dengan beras secara buru-buru lalu menumbuknya sekuat tenaga. “Kamu lihat ada emas yang muncul?” dia bertanya ke istrinya yang dari tadi memperhatikan dia menumbuk. “Tidak,” jawab istrinya, “tidak sedikit pun tapi berasnya terlihat agak aneh.” Beras itu pun berubah menjadi aneh, berjamur dan busuk, tidak bisa dimakan manusia maupun hewan.

“Sial!” teriak mereka, “lumpang ini menipu kita!” Tanpa menunggu lama, mereka menyalakan api dan membakar lumpang itu.

Sekarang pasangan tua yang baik itu pun kehilangan lumpang ajaib mereka. Tapi mereka tak pernah berkata apa pun terkait kejadian itu, mereka merupakan pasangan yang sabar. Si kakek baik pun mengambil abu dari sisa lumpang yang terbakar itu dan mulai pergi ke kota. 

Saat itu sudah memasuki pertengahan musim dingin dan semua daun-daun pohon sudah berguguran, Tidak ada satu pun bunga yang terlihat, bahkan satu daun pun tidak terlihat.

Si kakek baik itu memanjat sebuah pohon Sakura dan menyebarkan abu yang dia bawa ke semua dahan dan ranting pohon Sakura itu. Dalam beberapa saat setelahnya, bunga Sakura pun bermekaran dari pohon itu. Setelah itu si kakek baik ini turun dari pohon dan pergi ke istana pangeran dan mengetuk gerbang istana.

“Siapa kamu?” tanya penjaga istana.

“Saya Hanasakka-jiji,” kata si kakek, “kakek yang bisa membuat mekar pohon yang sudah mati, dan saya ingin bertemu dengan pangeran.”

Pangeran pun bahagia ketika melihat pohon Sakura, pohon persik dan pohon prem miliknya bermekaran secara cepat. 

“Ajaib sekali di tengah musim dingin dan kita bisa menikmati kebahagiaan musim semi.” kata pangeran. Dia pun memanggil istri dan dayang-dayangnya untuk menikmati hasil kerja dari Hanasaka-jijii dan memberikan hadiah yang banyak ke kakek baik itu ketika dia meninggalkan istana.

Lalu bagaimana dengan pasangan tua jahat itu? Apakah mereka membiarkan semua ini berlalu begitu saja? Tentu tidak.

Mereka mengumpulkan semua abu yang tersisa dan menyimpannya dalam keranjang, lalu berkeliling kota dan berteriak: “Kami Hanasaka-jijii. Kami bisa memekarkan pohon-pohon yang sudah mati.”

Teriakan pasangan tua itu pun mengundang perhatian si pangeran dan rombongannya untuk menyaksikan pertunjukan bunga mekar dari Hanasakka-jiji. Si kakek jahat pun segera memanjat pohon dan menaburkan abunya ke semua bagian dari pohon. Tapi pohon itu tidak memekarkan bunga sama sekali. Abu-abu itu malah terbang ke mata pangeran dan pangeran pun menjadi marah. Pasangan tua jahat itu pun ditangkap dan dihajar oleh para pengawal. Mereka pun pulang dengan rasa sedih dan penuh penyesalan. 


Catatan:

Comments